Pages

PARADIGMA Dan DERETAN MORFOLOGIS

MORFEM DAN PROSEDUR PENGALAMANNYA


Pada bagian ini, akan dipaparkan:
1) pengertian morfem;
2) perbedaan morfem, morf, dan alomorf;
3) perbadingan morfem dengan kata;
4) paradigma; dan
5) prinsip-prinsip pengenalan morfem.

           
D.        Paradigma dan deretan Morfologis
Paradigma yaitu daftar lengkap perubahan afiksasi yang mungkin dengan morfem asal yang sama (Verhaar, 1984:65). Morfem asal itu mungkin mengalami perubahan bentuk akibat afiksasi (Sitindoan, 1984:68). Pengertian paradigma sama maknanya denganderetan morfologik seperti yang diungkapkan Ramlan (1983:28) yaitu suatu deretan atau daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya.
Deretan morfologik ini akan berguna dalam menentukan sebuah morfem. Dengan membuat paradigma atau deretan morfologik kita akan dapat menentukan suatu morfem, misalnya:
menulis
penulis
tertulis
bertulis
bertuliskan
tulisan
tulis-menulis
menulisi
ditulisi
dituliskan
bertuliskan
menuliskan




tulis
Dari perbandingan kata yang terdapat dalam paradigma di atas, dapat disimpulkan adanya morfem tulis sebagai unsur yang terdapat pada tiap-tiap kata. Dengan demikian kita dapat menentukan bahwa menulis terdiri atas morfem meN- dan tulis dan seterusnya. Contoh lain dapat kita lihat dari paradigma berikut.
terlantar
menelantarkan
ditelantarkan
keterlantaran




terlantar
berdasarkan paradigma di atas jelaslah bahwa kata terlantar terdiri atas satu morfem, bukan dua morfem ter- dan lantar.


PENGERTIAN MORFEM

MORFEM DAN PROSEDUR PENGALAMANNYA

Pada bagian ini, akan dipaparkan:
1) pengertian morfem;
2) perbedaan morfem, morf, dan alomorf;
3) perbadingan morfem dengan kata;
4) paradigma; dan
5) prinsip-prinsip pengenalan morfem.

A.        Apakah Morfem Itu?
Kita sudah tahu, behwa morfem merupakan satuan yang paling kecil yang dapat dipelajari oleh morfologi. Namun, apa yang dimaksud dengan morfem belum dijelaskan. Inilah pengertiannya.
1) Morfem ialah satuan gramatik yang paling kecil yang tidak mempunyai satuan lain selain unsurnya                   (Ramlan, 1983 : 26).
2) Morfem ialah satuan bentuk terkecil yang mempunyai arti (Alwasilah, 1983 : 10).
3) Morfem ialah kesatuan gramatik yang terkecil yang mengandung arti, yang tidak mempunyai                         kesamaan baik dalam bentuk maupun dalam arti dengan bentuk-bentuk yang lain (Sitindoan, 1984                 : 64).
4) Morfem yaitu semua bentuk baik bebas maupun terikat yang tidak dapat dibagi ke dalam bentuk                   terkecil yang mengandung arti (Bloch dan Trager dalam Prawirasumantri, 1985 : 127).
5) Morfem adalah komposit bentuk pengertian yang terkecil yang sama atau mirip yang berulang                    (Samsuri, 1982 : 170). Yang dimaksud berulang disini yaitu kehadirannya berkali-kali dalam tuturan.
6) Bloomfield (1933 : 161) mendefinisikan morfwem sebagai “ a linguistic from wich bears no partial phonetic-semantic resemblance to any other form, is a simple form or morpheme. (Maksud pernyataan itu, “satu bentuk lingual yang sebagiannya tidak mirip dengan bentuk lain mana pun secara bunyi maupun arti adalah bentuk tunggal atau morfem).
7) Morphemes are the smallest individually meaningfull element is the utterances of a language (Hockett, 1958 : 123). Maksudnya, morfem adalah unsur-unsur yang masing-masing mempunyai makna dalam tutur sebuah bahasa.
Dari ketujuh definisi yang telah dikutip di atas, tergambar adanya persamaan konsep. Pada dasarnya, morfem merupakan satuan gramatik terkecil baik bebas maupun ikat yang memiliki arti, baik secara leksikal maupun gramatikal.
Sebagai contoh bentuk sakit adalah sebuah morfem karena tidak dapat dibagi menjadi bentuk-bentuk terkecil lainnya serta mengandung makna atau arti leksis. Bentuk meN- juga merupakan sebuah morfem, karena merupakan bentuk terkecil bahasa Indonesia, walau tidak mempunyai makna leksikal, tetapi mempunyai makna gramatikal. Jadi jelas, bahwa morfem itu bisa berbentuk bebas (seperti: ke-, ter-, peN-, di-, per-an, peN-an). Oleh karena itu, morfem dapat diklasifikasikan menjadi morfem bebas dan morfem ikat.


MORFEM, MORF Dan ALOMORF

MORFEM DAN PROSEDUR PENGALAMANNYA  

Pada bagian ini, akan dipaparkan:
1) pengertian morfem;
2) perbedaan morfem, morf, dan alomorf;
3) perbadingan morfem dengan kata;
4) paradigma; dan
5) prinsip-prinsip pengenalan morfem.

B.        Morfem dengan Morf dan Alomorf
            Banyak morfem yang hanya mempunyai satu struktur yakni jumlah maupun urutan fonemnya selalu tetap. Di lain pihak, banyak morfem yang mempunyai beberapa struktur fonologis, misalnya morfem peN- mempunyai struktur-struktur fonologis pe-, pem-, pen-, peng-, peny-, dan penge-, seperti terlihat pada kata-kata: pelari, pembimbing, pendengar, penguji, penyakit, dan pengecat.satuan-satuan pe-, pem-, peng-, peny-, dan penge- masing-masing disebut morf yang semuanya alomorf dari morfem peN- (Ramlan, 1983 : 27; Prawirasumantri, 1985 : 128; Ahmadslamet, 1983 : 27; Keraf, 1983 : 51). Jadi dapatlah dikatakan bahwa morfem peN- mempunyai morf-morf  pe-, pem-, pen-, peng-, peny-, dan penge- sebagai alomorfnya.
            Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa alomorf itu merupakan variasi bentuk suatu morfem. Keraf (1982 : 51) mengatakan bahwa variasi itu disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang dimasukinya. Maksudnya, bergantung kepada jenis fonem awal sebuah satuan yang dilekati oleh morfem tersebut. Perubahan /N/ itu harus homogen. Sebagai contoh /N/ akan menjadi /m/ apabila dilekatkan pada bentuk dasar yang diawali fonem /b/. fonem /m/ dan /b/ sama-sama bunyi bilabial. Sedangkan yang dimaksud dengan morf adalah wujud kongkret dari alomorf itu sendiri.


UJI PEMAHAMAN MATERI MORFEM

MORFEM DAN PROSEDUR PENGALAMANNYA

Pada bagian ini, akan dipaparkan:
1) pengertian morfem;
2) perbedaan morfem, morf, dan alomorf;
3) perbadingan morfem dengan kata;
4) paradigma; dan
5) prinsip-prinsip pengenalan morfem.


F.         Uji Pemahaman Materi
A. 1 Untuk soal nomor 1 sampai dengan 5, silanglah huruf yang berada di depan
alternatif jawaban yang benar.
1)      Satuan-satuan berikut yang bermorfem tunggal ialah …
a. tari, satuan, ke-, ringkik
b. per-an, keliar, makan, -i
c. tertunduk, ber-an, gerakan, -lah
d. satuan, per-an, gerakan, juang
2)      Satuan yang paling kecil yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, tidak mempunyai makna leksikal tetapi mempunyai makna gramatikal disebut …
a. morfem
b. morfem bebas
c. morfem ikat
d. pokok kata
3)      Beberapa satuan yang mempunyai struktur fonologis yang berbeda, tetapi perbedaannya masih dapat dibuktikan secara fonologis termasuk morfem yang sama apabila …
a. memiliki makna yang sama
b. memiliki makna leksikal
c. memiliki makna gramatikan
d. terdapat pada suatu bahasa
4)      Variasi bentuk suatu morfem dinamakan …
a. morfem
b. morf
c. alomorf
d. kata
5)      Bentuk berikut yang termasuk kata monomorfemis ialah …
a. belajar
b. belati
c. berenang
d. berakar
6)      Satuan tangan pada kalimat-kalimat berikut semorfem, kecuali …
a. Tangan kanan Amir bengkak.
b. Akibat tersenggol mobil, tangan kiri Amir terluka.
c. Kaki dan tangan Pak Ewoy diikat perampok.
d. Rudi menjadi tangan kanan Pak Yadi.
7)      Suatu daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dengan bentuk dan artinya dinamakan ...
a. deretan morfologis
b. satuan morfologis
c. bentuk morfologis
d. proses morfologis
8)      (1) Dia mencari adiknya.
(2) Rudi membaca koran.
(3) Yedi minum kopi.
Satuan gramatik yang mengandung morfem zero ialah …
a. mencari
b. membaca
c. minum
d. koran dan kopi

A. 2 Untuk soal nomor 9 sampai dengan nomor 20, pilihlah:
a. jika 1, 2, dan 3 benar;
b. jika 1 dan 2 benar;
c. jika 1 dan 3 benar; dan
d. jika 1 benar
9)      Suatu satuan gramatik dikatakan morfem apabila …
1.      merupakan satuan gramatik terkecil
2.      mempunyai makna, baik leksikal maupun gramatikal
3.      dapat berdiri sendiri dalam tuturan
10)  Suatu satuan gramatik dinamakan kata jika …
1.      merupakan kesatuan penuh dan komplit dalam sebuah ujaran bahasa
2.      dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa
3.      dalam kalimat dapat dipisahkan dari satuan yang lain
11)  Satuan burung pada kalimat: (1) Ayah sangat menyukai burung beo; dan (2) Kemarin ayah membeli burung, merupakan morfem yang sama, sebab …
1.      mempunyai struktur fonologis yang sama
2.      terdapat pada kalimat yang berbeda
3.      mempunyai makna yang sama
12)  Morfem unik terdapat pada gabungan …
1.      hiruk pikuk
2.      tua bangka
3.      sunyi senyap
13)  Satuan bisa pada: (1) bisa ular berbahaya; dan (2) soal itu bisa dikerjakannya, merupakan dua morfem yang berbeda, sebab …
1.      mempunyai makna yang berbeda
2.      struktur fonologis sama
3.      terdapat pada kalimat yang berbeda
14)  Berikut ini satuan yang tergolong pada kata polimorfemis ialah …
1.      terakhir
2.      terlantar
3.      terigu
15)  Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dibuktikan secara fonologis masih dianggap morfem yang sama, apabila mempunyai makna yang sama dan mempunyai distribusi yang komplementer. Misalnya …
1. ber- dan bel- pada berangkat dan belajar
2. pen- dan peng- pada pendaki dan pengangkut
3. me- dan meny- pada melerai dan menyapa
A. 3 Untuk soal nomor 16 sampai dengan 20, pilihlah:
a.       jika pernyataan benar alas an benar, keduanya mencerminkan hubungan sebab akibat;
b.      jika pernyataan dan alas an benar;
c.       jika pernyataan benar alasan salah;
d.      jika pernyataan salah alasan benar.
16)  Satuan-satuan nyanyi, meN-, makan termasuk morfem,
                                    sebab
morfem ialah satuan gramatik terkecil yang mempunyai makna, baik leksikal ataupun gramatikal, baik bebas terikat.
17)  Satuan-satuan penarikan, ditarik, menarik, tarikan, dan tertarik dapat dimasukkan dalam satu deretan morfologis,
                                    sebab
kata-katanya memiliki hubungan bentuk dan makna.
18)  Satuan-satuan pe-, pem-, dan pen- pada pelari, pembawa, dan pendaki merupakan morfem yang berbeda,
                                    sebab
satuan-satuan itu mempunyai struktur fonologis yang berbeda, tetapi memilki makna yang sama, sedangkan perbedaan struktur tersebut dapat dijelaskan secara fonologis.
19)  Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis yang sama tetapi makna berbeda termasuk morfem yang berbeda,
                                    sebab
satuan dingin pada: (1) udara di luar dingin; dan (2) semua persoalan harus diselesaikan dengan kepala dingin, termasuk morfem yang berbeda.
20)  Satuan-satuan berkebangsaan, kemauan, berkelahi, termasuk kata polimorfemis,
                                    sebab
kata polimorfemis ialah kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih.

B.     Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan singkat, jelas, dan tepat. Anda bisa menjawabnya dirumah, kemudian anda kumpulkan minggu yang akan dating sebagai tugas terstruktur.
1)      Apa yang dimaksud dengan morfem?
2)      Apa perbedaan morfem, morf, alomorf? Jelaskan dengan disertai contoh !
3)      Apa pula perbedaan morfem dengan kata? Jelaskan dengan disertai contoh !
4)      Apa yang dimaksud dengan deretan morfologis? Apa pula fungsinya?
5)      Ada berapa macam prinsip pengenalan morfem yang anda ketahui? Sebutkan dengan disertai contoh!
6)      Buktikan bahwa satuan halaman pada: (1) halaman rumahnya bersih; (2) ibu sedang menyapu halaman; dan (3) sekolahku halamannya sempit, termasuk satu morfem!
7)      Buatlah tiga buah kalimat dari satuan bunga sehingga terlihat bahwa satuan itu termasuk morfem yang berbeda !
8)      Termasuk morfem yang sama atau perbedakan satuan-satuan pe- dan pel- pada peramal dan pelajar? Jelaskan!
9)      Ada berapa morfemkah satuan diporakporandakan? Prinsip manakah yang anda gunakan?
10)  Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda. Kapankah itu terjadi? Jelaskan dengan disertai contoh !


PRINSIP-PRINSIP PENGENALAN MORFEM

MORFEM DAN PROSEDUR PENGALAMANNYA

Pada bagian ini, akan dipaparkan:
1) pengertian morfem;
2) perbedaan morfem, morf, dan alomorf;
3) perbadingan morfem dengan kata;
4) paradigma; dan
5) prinsip-prinsip pengenalan morfem.


E.        Prinsip-prinsip Pengenalan Morfem
Pengenalan morfem dapat dilakukan dengan cara membanding-bandingkan suatu bentukan yang berulang dengan cara mengadakan subtitusi (Prawirasumantri, 1985:129). Deretan morfologik atau paradigma merupakan salah satu cara untuk itu. Namun demikian, untuk mengenal suatu morfem lebih jauh, kita kita dapat menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Samsuri (1982:172) dan Ramlan (1983:31) mengemukakan masing-masing enam prinsip pengenalan morfem. Samsuri mengemukakan tiga prinsip pokok dan tiga prinsip tambahan, sedangkan Ramlan tidak membedakan keenam prinsip tersebut. Sementara itu Ahmadslamet (1982:46) mengetengahkan pendapat Nida (1963) memaparkan tujuh prinsip. Dalam uraian ini akan dipaparkan enam prinsip Ramlan dan satu prinsip tambahan dari Nida untuk melengkapinya.
Prinsip ke-1
Satuan-satuan atau bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis dan arti atau makna yang sama termasuk satu morfem.
Bentuk baju pada kata berbaju, menjahit baju, baju batik, dan baju biru merupakan satu morfem. Satuan-satuannya itu mempunyai struktur fonologis yang sama yakni /b/a/j/u/ dan arti yang sama yaitu ‘alat penutup badan”.
Prinsip ke-2
Satuan-satuan atau bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang berbeda termasuk satu morfem apabila memiliki satu arti yang sama sedangkan perbedaan struktur tersebut dapat dijelaskan secara fonologis.
Satuan-satuan men-, mem-, meng-, meny-, menge-, me-, pada kata menjawab, membawa, menggali, menyuruh, mengebom, dan melerai mempunyai makna yang sama yaitu “menyatakan tindakan aktif”. Perbedaan struktur fonologis tersebut dapat dijelaskan secara fonologis yaitu disebabkan oleh lingkungan yang dimasukinya yakni fonem awal bentuk dasar yang mengikutinya yaitu /j/, /b/, /g/, /s/, kata yang terdiri atas satu suku kata, dan /l/. fonem /N/ pada morfem meN- berubah menjadi /m/ seperti pada kata membawa, hal itu disebabkan fonem /b/ merupakan fonem bilabial, sama dengan fonem /m/. karena fonem tersebut sejenis, maka pengucapannya akan mudah. Itulah sebabnya tidak menbaca, mengbaca, menybaca, atau mebaca dan mengebaca.
Prinsip ke-3
Satuan-satuan atau bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologis, masih dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai makna atau arti yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer.
Satuan-satuan be-, ber-, dan bel- pada kata-kata bekerja, berjalan, dan belajar termasuk satu morfem, walau bentuk bel- pada belajar tidak dapat dijelaskan secara fonologis, tetapi ketiga bentuk itu merupakan bentuk yang komplementer (nonkontrastif). Maknanya pun sama, oleh karena itu termasuk morfem yang sama yaitu morfen ber-.
Prinsi ke-4
Apabila deretan suatu satuan berparalel dengan suatu kekosongan, maka kekosonganitu merupakan morfem yang disebut morfem zero.
Bahasa Indonesia memiliki deretan struktur seperti di bawah ini.
1) Ia membeli sepeda.
2) Ia menjahir baju.
3) Ia membaca buku.
4) Ia makan roti.
5) ia minum es.
Kelima kalimat tersebut berpola sama yaitu SPO (Subjek + Predikat + Objek). Predikatnya merupakan kata kerja transitif. Pada kalimat 1, 2, da 3 kata kerja itu ditandai oleh adanya afiks meN-, sedangkan pada kalimat 4 dan 5 ditandai oleh kekosongan yakni tidak hadirnya morfem meN-. Kekosongan itu merupakan sebuah morfem yang disebut morfem zero.
            Prinsip ke-5
            Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda. Apabila bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama itu berbeda artinya, maka satuan-satuan itu merupakan morfem-morfem yang berbeda, akan tetapi apabila satuan-satuan itu mempunyai arti yang berhubungan, maka bentuk itu merupak satu morfem, dan merupakan morfem yang berbeda apabila distribusinya sama.
            Sebagai contoh kita ambil kata buku dalam “Ia membaca buku.” Yang berarti kitab, dan kata buku dalam “buku tebu” yang berarti “ruas” merupakan morfem yang berbeda walau struktur fonologisnya sama. Kata duduk dalam “Ia sedang duduk.” Merupakan satu morfem dengan duduk dalam “Duduk orang itu sangat sopan.” Karena keduanya mempunyai arti yang berhubungan dan mempunyai distribusi yang berbeda. Kata duduk dalam “Ia sedang duduk.” Berfungsi sebagai predikat, dan termasuk ke dalam golongan kata kerja, sedangkan duduk dalam “Duduk orang itu sangat sopan.” Berungsi sebagai subjek dan termasuk golongan kata benda sebagai akibat adanya proses niminalisasi. Sebaliknya kata mulut pada “Mulut gua itu lebar.” Merupakan morfem yang berbeda dengan kata mulut pada “Mulut orang itu lebar.” Karena arti keduanya berbeda sedangkan distribusinya sama yaitu sebagai subjek.
            Prinsip ke-6
            Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem. Denganperkataan lain, Nida menyebutnya setiap pembentukan yang dapat mengisi sendiri lajur sekatan suatu deretan struktur dianggap sebuah morfem.
            Perhatikanlah satuan-satuan yang terdapat pada lajur sekatan berikut ini !
di-


men-
per-
per-
men-
per-
ter-
ber-
se-
ke-
sama
sama
sama
sama
sama
sama
sama
sama
-kan
-an
-i
-kan
-i
-an

-an
-nya
-nya
-lah
-kah
            Satuan-satuan di atas yang terdiri atas satu, dua, tiga, dan empat fonem, merupakan satuan-satuan yang disebut morfem, sebab semuanya dapat mengisi sekatan tertentu dengan arti atau makna tertentu pula. Bagian-bagian yang mengisi lajur atau sekatan berikut ini tidak dapat disebut morfem, sebab sama sekali tidak mengandung makna atau arti.
sa
ma
bersa
ma
sa
mai

            Prinsi ke-7
            Bagian gabungan yang diketahui maknanya setelah bergabung dengan bagian lainnya dianggap sebuah morfem.
            Contoh satuan atau bentuk seperti itu dalam bahasa Indonesia antara lain: keliar, juang, laying, seling, temu, baru jelas maknanya apabila bergabung menjadi: berkeliaran, berjuang, melayang, selingan, pertemuan. Seperti telah dijelaskan, satuan-satuan seperti itu disebut pokok kata. Selain pokok kata, banyak satuan lain dalam bahasa Indonesia yang baru mempunyai makna apabila bergabung dengan bentukan lain yang sangat khusus, misalnya belia, siur, bangka, renta, gulita yang hanya dapat hadir di belakang satuan-satuan muda, simpang, tua, tua, dan gelap. Bentukan atau satuan seperti itu dinamakan morfem unik yakni morfem yang hanya dapat bergabung dengan morfem tertentu.


MORFEM DENGAN KATA

MORFEM DAN PROSEDUR PENGALAMANNYA

Pada bagian ini, akan dipaparkan:
1) pengertian morfem;
2) perbedaan morfem, morf, dan alomorf;
3) perbadingan morfem dengan kata;
4) paradigma; dan
5) prinsip-prinsip pengenalan morfem.

C.        Morfem dengan Kata
            Perhatikanlah satuan-satuan gramatik berikut ini !
1) tanda
2) menandai
3) tanda tangan
4) dari Bandung
            Satuan tanda merupakan sebuah bentuk bebas karena tidak dapat dibagi menjadi satuan-satuan bebas lainnya. Satuan menandai tidak dapat dibagi menjadi bentuk bebas. Tetapi perhatikan bentuk atau satuan tanda tangan dapat dibagi menjadi dua satuan yakni tanda dan tangan. Namun kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya satuan tanda tangan memiliki satu kesatuan yang utuh atau padu. Dengan perkataan lain, tanda tangan memiliki sifat sebuah kata yang membedakan dirinya dari frase (Ramlan, 1983 : 28; Prawirasumantri, 1985 : 129). Bentuk-bentuk atau satuan-satuan yang setipe itu tidak mungkin dipisahkan atau dibalikkan menjadi tangan tanda  atau dipisahkan satuan lain tanda itu tangan. Bentuk atau satuan sepeti itu dalam hubungannya keluar selalu merupakan satu kesatuan dari. Satuan itu bukan merupakan bentuk bebas seperti contoh lainnya di, ke, daripada- tetapi secara gramatis memiliki sifat bebas. Satuan-satuan seperti contoh di atas dari nomor 1 sampai dengan 4 di sebut kata.
Berdasarkan penjelasan di atas, nyatalah bahwa kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Kata-kata seperti: duduk, makan, tidur, meja masing-masing terdiri atas sebuah morfem, sedangkan penduduk, makanan, meja makan, kaki tangan masing-masing terdiri atas dua buah morfem. Kata-kata yang terdiri atas satu morfem disebut kata bermorfem tunggal atau kata monomorfemis (monomorphemic word) dan kata-kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut kata bermorfem jamak atau kata polimorfemis (polymorphemic word) (Verhaar, 1984 : 54).
Dari paparan di atas dapatlah ditarik suatu cirri kata. Cirri kata pada dasrnya mencakup dua hal yaitu: (1) kata merupakan suatu kesatuan penuh dan komplit dalam sebuah ujaran bahasa, dan (2) kata dapat ditersendirikan yakni bahwa sebuah kata dalam kalimat dapat dipisahkan dari yang lain dan dapat dipindahkan (Parera, 1980 : 10).


CONTOH ANALISIS ARTIKEL BAHASA INDONESIA


Judul Artikel   :     Perempuan Multicerdas, Melahirkan Generasi Unggul
Tahun Terbit    :     25 Mei 2010
Penulis             :     Dinda Dewi Warsana
Tebal Buku      :     3 Halaman
Bahasa             :     Indonesia

Banyak tantangan yang dihadapi Indonesia untuk mencerdaskan Bangsa seiring berkembangnya kemajuan Iptek dan teknologi, kemerosotan moral Bangsa, serta kurangnya emansipasi perempuan.
Hal inilah yang ingin disampaikan penulis. Ia prihatin akan kondisi masyarakat Indonesia.
            Artikel ini menjelaskan mengenai peran seorang perempuan dalam melahirkan generasi unggul. Kaum perempuan dituntut untuk mampu mempersiapkan diri menjadi sosok perempuan cerdas tanpa mengabaikan ilmu agamanya disamping tekun menuntut ilmu pengetahuan. Lebih lebih jika dikaitkan dengan perannya sebagai seorang ibu ketika telah bersuami. Seorang ibu akan berhasil mencetak anak yang berkualitas bila ia memiliki totalitas pribadi yang berkualitas. Penulis juga menjelaskan guna membebaskan diri dari belenggu kebodohan dan krisis ekonomi maka perlu adanya sikap konstruktif serta optimisme. Dengan siap konstruktif, krisis ekonomi tidak dipandang sebagai momok kehidupan. Didalam penerapannya, para perempuan diharapkan mampu menghayati sifat sifat keibuan, kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari hari maka mereka akan mampu membebaskan diri dari kebodohan maupun setiap krisis yang dialaminya.
Kekurangan :
            Dalam penulisannya artikel ini terdapat kesalahan pengetikan sehingga memungkinkan bagi pembaca salah mengartikan maksud dari tujuan yang ingin disampaikan. Disamping itu dirasa kurang sempurna karena penulis tidak menjelaskan faktor faktor apa saja yang dapat menghambat seorang perempuan untuk menumbuhkan sifat sifat keibuan guna melahirkan generasi unggul.

Kelebihan       :
            Bahasa yang digunakan mudah dipahami, sehingga penjelasan yang disampaikan yang cukup sulit menjadi lebih mudah untuk dimengerti walaupun terdapat beberapa kesalahan dalam pengetikan.
Sesuai dengan judulnya, artikel ini membahas problematika perempuan dalam kaitannya melahirkan generasi unggul, mulai dari mempersiapkan diri menjadi sosok perempuan yang cerdas hingga pada penerapannya dalam kehidupan sehari hari. Bahkan penulis juga menggunakan dalil dalil Al Quran dan ajaran ajaran Islam dalam penyampaiannya.
Jadi artikel ini bukan sekedar memperliahatkan kecerdasan dan teknik penyampaian yang bagus melainkan juga sekaligus kekayaan pandangan penulis mengenai agama

Kecocokan dengan Pembaca :
            Artikel ini dapat dibaca oleh semua kalangan, khususnya bagi perempuan, karena membuat pembaca dapat merencanakan hidup dan menyiasati perilakunya secara rasional. Serta bagi pembaca perempuan mereka mampu mengetahui bagaimana memerankan dirinya sebagai ibu masyarakat yang memiliki kepercayaan diri yang kuat
PERBEDAAN DENGAN ARTIKEL LAIN

Artikel “Perempuan Multicerdas, Melahirkan Generasi Unggul”
(Oleh Dinda Dewi Warsana)
Artikel “Tantangan melahirkan Generasi Unggul”
(Oleh Jeremias Jena)
1. Lebih terfokus pada penjelasan mengenai peran perempuan

2. Persoalan ang dibahas tertuju pada peningkatan emansipasi wanita & agama

3. Mencantumkan dalil dalil agama untuk memperkuat isi topik yang dibahas




1.Menjelaskan secara umum mulai dari peran pemerintah hingga pada individu masing masing masyarakat
2.Persoalan yang dibahas tertuju pada program pendidikan dan peningkatan moral
3.Mencantumkan kutipan / pendapat para tokoh tokoh yang berkaian dengan pembahasan

PERSAMAAN DENGAN ARTIKEL LAIN

Artikel “Perempuan Multicerdas, Melahirkan Generasi Unggul”
(Oleh Dinda Dewi Warsana)
Artikel “Tantangan melahirkan Generasi Unggul”
(Oleh Jeremias Jena)
1. Sama sama memandang bahwa faktor kepribadian yang bermoral sanggup melahirkan generasi yang unggul
2. Sama sama memandang bahwa tantangan melahirkan generasi unggul adalah faktor kepribadian yang bermoral

Kelompok :
1.      Ayu Wulandari     (09311025)
2.      Ayudya Astari      (09311026)
3.      Nisa Arisma Y.     (09311110)

4.      Yulianti S.             (09311201)

CONTOH ABSTRAK SKRIPSI YANG BAIK DAN BENAR TERBARU

KONFLIK BATIN DAN NILAI PERJUANGAN
YANG DIALAMI TOKOH-TOKOH DALAM NOVEL
“DAERAH TIDAK BERTUAN” KARYA TOHA MOHTAR

Yulianti Setyaningrum
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP PGRI MADIUN
Yuuliant@yahoo.com

Abstract
The purpose of this study is to describe the inner conflict of the main character in the novel Daerah Tidak Bertuan Work Toha Mohtar and describe the values ​​contained in the novel struggles Daerah Tidak Bertuan Work Toha Mohtar using a psychological approach to literature. The method used in this research is descriptive qualitative method is described in detail about the inner conflict of the main character in the novel Daerah Tidak Bertuan Work Toha Mohtar and describe the values ​​contained in the novel struggles Daerah Tidak Bertuan Work Toha Mohtar. Sources of data in this study include sources of primary data in the form of novels Daerah Tidak Bertuan Work Toha Mohtar and secondary data sources in the form of articles in books and articles on the internet according to the problem being studied. Data collection techniques are literature data collection techniques, analysis of contents (Content Analysis), Textual observations. Form of data analysis is content analysis (content analysis), including reviewing or discussing the contents contained in the novel Daerah Tidak Bertuan Toha Mohtar work. The results showed that the source of the conflict experienced by some of the characters in this novel are (1) fear of death, (2) any distress caused confusion and anxiety in themselves because they have to solve the problem without having to raise new issues, (3) flavor guilty of self followed by a great fear, (4) and uncontrolled emotional outbursts of hatred against friends, (5) the desire to kill but was restrained by prohibition, (6) the emergence of the concept of guilt and ends with the emergence of moral consciousness at the end of the story. Value struggle contained in this novel are (1) the spirit and sacrifice of character guarding Truno Mantrihas Kampil gems to submit to the Defence Headquarters, (2) the courage to kill Captain Mantrihas Wellington alone, (3) the courage to bring the wife and kids to see Solimin Kaelani who are on the battlefield, (4) and persistent arek-arek Surabaya retain an inch of soil spilled blood of allied occupation forces.


Keywords: Inner Conflict and Resistance Value Novel Daerah Tidak Bertuan Work Toha Mohtar

Menghilangkan Jerawat


       Untuk menghilangkan jerawat yang membandel dan sering muncul di wajah, kamu bisa memanfaatkan daun jambu biji lho, cantik. 

Caranya :
  1. ambil ujung daun jambu yang masih muda dan cuci bersih.
  2. Rendam di air dan remas-remas daunnya hingga airnya berbusa.
  3. Oleskan airnya di area kulit yang berjerawat dan diamkan sebentar lalu bilas lagi hingga bersih.
  4. Lakukan rutin hingga jerawatnya hilang. Mudah? Tentu..
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog DaSaBHuMi - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger